Sabtu, 09 Juli 2011

DARI YANG TIDAK ADA MENJADI ADA

DARI TIDAK ADA MENJADI ADA: DENTUMAN BESAR (THE BIG BANG)
(Dia) Pencipta langit dan bumi …
(QS. Asy Syuura, 42:11)
Tahukah Anda bahwa segala sesuatu yang Anda lihat di sekitar Anda, tubuh Anda sendiri, rumah yang Anda huni, kursi yang Anda duduki, ayah dan ibu Anda, pepohonan, burung-burung, tanah dan buah-buahan, singkatnya, semua makhluk hidup dan benda mati yang mampu Anda bayangkan, timbul melalui bergabungnya atom-atom yang disebabkan oleh “Dentuman Besar” atau Big Bang? Sadarkah Anda akan kenyataan bahwa, setelah ledakan ini, muncullah keteraturan yang sempurna di seluruh jagat raya? Lalu, apakah “Dentuman Besar” itu?

Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau Big Bang.

Penciptaan suatu keteraturan sempurna menyusul peristiwa Big Bang sama sekali bukanlah gejala yang dapat dianggap sebagai peristiwa biasa. Pikirkanlah tentang kenyataan bahwa beribu-ribu jenis ledakan sering terjadi di bumi, tetapi tak ada keteraturan yang dihasilkannya. Bahkan sebaliknya, semua itu mengarah ke akibat yang menghancurkan, merusak, dan membinasakan. Contohnya, bila bom atom atau bom hidrogen, letusan gunung berapi, ledakan gas alam, dan ledakan yang terjadi di matahari diamati, kita dapat melihat bahwa dampak yang ditimbulkannya selalu membahayakan. Akibat yang bersifat membangun keteraturan atau sesuatu yang lebih baik tidak pernah diperoleh sebagai akibat dari suatu ledakan. Akan tetapi, menurut data ilmiah yang diperoleh dengan bantuan teknologi modern, Big Bang, yang terjadi ribuan tahun lalu, menyebabkan perubahan dari tiada menjadi ada, bahkan menghadirkan keberadaan yang sangat teratur dan selaras.

Sekarang, mari kita pikirkan contoh berikut: Di bawah tanah, terjadi ledakan dinamit dan, setelah ledakan ini, istana paling indah yang pernah disaksikan dunia, lengkap dengan jendela, pintu, dan perabotan yang mewah dan indah, tiba-tiba muncul. Masuk akalkah untuk menyatakan bahwa, “Ini menjadi ada secara kebetulan”? Dapatkah istana itu terwujud dengan sendirinya? Tentu saja tidak!

Alam semesta yang terbentuk setelah Big Bang merupakan sistem yang demikian hebat, terencana dengan sangat cermat, dan menakjubkan sehingga ini sudah pasti tidak mungkin disejajarkan dengan istana yang ada di bumi. Dalam keadaan seperti ini, sama sekali tidak masuk akal untuk menyatakan bahwa alam semesta menjadi ada dengan sendirinya. Alam semesta tiba-tiba saja muncul menjadi ada dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan kepada kita keberadaan Pencipta Yang menciptakan benda atau materi dari ketiadaan dan Yang menjaganya setiap saat dalam kendali-Nya. Dialah Yang Maha Bijaksana dan Mahakuasa. Sang Pencipta ini adalah Allah, Yang Mahaperkasa.
GAMBARAN TENTANG LUASNYA RUANG ANGKASA
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al Furqaan, 25: 2)
Di alam semesta, tak terhitung banyaknya sistem yang bekerja. Allah menempatkan semua sistem ini dalam kendali-Nya meski di saat kita tidak menyadarinya, misalnya, saat kita sedang membaca, berjalan, atau tidur. Allah menciptakan alam semesta beserta seluk-beluknya yang rinci yang berjumlah tak terhitung agar manusia dapat memahami kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Di dalam Al Quran, Allah berfirman kepada manusia dan menjelaskan alasan penciptaan keteraturan di alam semesta sebagai berikut, “…agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesunguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaaq, 65:12) Keteraturan ini mengandung seluk-beluk yang begitu banyak sehingga manusia takkan mungkin tahu dari mana harus mulai memikirkannya.

Contohnya, setiap orang tahu bahwa alam semesta sangatlah luas. Akan tetapi, saat kita mulai berpikir tentang seberapa luas hal ini sebenarnya, kita akan menjumpai gambaran yang jauh berbeda dari apa yang biasanya kita pahami. Garis tengah matahari adalah 103 kali lebih besar daripada garis tengah bumi. Mari kita perjelas hal ini dengan menggunakan perbandingan. Jika kita umpamakan bumi sebagai kelereng, matahari adalah bola yang dua kali lebih besar daripada sebuah bola sepak. Hal yang menarik di sini adalah jarak di antara keduanya. Agar dapat membuat tiruan yang mencerminkan ukuran sesungguhnya, kita perlu menempatkan jarak sejauh kira-kira 280 meter (920 kaki) di antara bumi berukuran kelereng dengan matahari berukuran bola tersebut. Dan bintang-bintang yang berada di luar tata surya kita perlu ditempatkan berkilo-kilometer jauhnya.

Dengan perbandingan ini, Anda dapat membayangkan bahwa tata surya merupakan tempat yang sangat luas. Tetapi, saat kita membandingkannya dengan galaksi Bima Sakti, tempat tata surya kita berada, tata surya kita akan tampak sangat kecil. Karena, di dalam galaksi Bima Sakti, ada sekitar 250 miliar bintang yang mirip dengan matahari kita, dan kebanyakan jauh lebih padat.

Matahari kita terletak pada salah satu lengan galaksi yang berbentuk spiral ini. Tetapi, yang menarik adalah galaksi Bima Sakti sesungguhnya adalah tempat yang sangat “kecil” pula, bila kita memperhitungkan keseluruhan luar angkasa. Sebab, ada juga galaksi-galaksi lain di ruang angkasa yang diperkirakan berjumlah keseluruhan sekitar 300 miliar…

Sekelumit contoh yang telah kami sampaikan tentang ukuran dan jarak yang sedemikian lebar antara benda-benda angkasa di jagat raya ini saja sudah cukup untuk menunjukkan kehebatan tiada tara dari kepiawaian Allah dalam penciptaan, fakta bahwa Dia tidak punya sekutu dalam mencipta, dan bahwa Dialah yang Mahakuasa. Allah menyerukan manusia agar memikirkan kenyataan-kenyataan ini sebagai berikut:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” (QS. An Naazi’aat, 79:27-28)
TATA-SURYA YANG TERATUR SEMPURNA
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Faathir, 35: 41)
Bila Anda pergi ke luar, sinar matahari menerpa wajah Anda tanpa mengganggu Anda, dan keadaan yang menguntungkan Anda ini disebabkan oleh adanya tatanan sempurna dalam tata surya. Matahari, yang memberikan kehangatan dan cahaya menyenangkan bagi kebaikan kita, sebenarnya hanyalah seperti sebuah lubang dalam yang terdiri atas awan gas berwarna merah. Matahari terbuat dari pusaran nyala api raksasa yang memancar sampai berjuta-juta kilometer jauhnya dari permukaan yang mendidih, serta topan raksasa yang naik ke permukaan dari dasarnya. Hal ini dapat berakibat mematikan bagi umat manusia. Tetapi, atmosfer (lapisan udara) dan medan magnet bumi menyaring semua sinar matahari yang membahayakan dan mematikan ini sebelum sempat sampai kepada kita. Keteraturan sempurna dalam tata surya inilah yang menjadikan bumi planet yang dapat dihuni.

Bila kita tinjau struktur tata surya, akan kita temukan keseimbangan yang sangat halus dan teliti. Yang menahan planet-planet dalam tata surya agar tidak terlepas dari tata surya dan terlempar ke dalam suhu dingin membeku di angkasa luar adalah keseimbangan antara gravitasi (gaya tarik) matahari dan gaya sentrifugal planet-planet. Matahari menarik semua planet dengan gaya tarik kuat yang ditebarkannya, sementara planet-planet secara terus-menerus mengimbangi tarikan ini dengan menggunakan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gerakan planet-planet tersebut pada jalur lintas atau orbitnya. Tetapi bila planet-planet ini berputar pada sumbunya (gerak rotasi) dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah, planet akan ditarik oleh matahari dengan sangat kuat sehingga jatuh ke dalam raksasa matahari dan tertelan suatu ledakan hebat. Hal yang sebaliknya juga mungkin terjadi. Jika planet-planet berputar dengan kecepatan yang lebih tinggi, kali ini gravitasi matahari tidak akan cukup kuat untuk menahannya dan planet-planet akan terlempar ke ruang hampa di angkasa luar. Tetapi, sebuah keseimbangan yang sangat halus cermat telah ditetapkan, dan sistem ini dapat terus berlangsung karena mempertahankan keseimbangan ini.

Selain itu, juga penting untuk dicatat bahwa keseimbangan yang disebutkan di atas diciptakan secara tersendiri untuk setiap planet, karena jarak masing-masing planet dari matahari adalah berlainan. Di samping itu, massa setiap planet juga berbeda. Karena itulah, untuk setiap planet, kecepatan rotasi yang berbeda juga ditetapkan. Hal ini dimaksudkan, agar planet-planet tersebut dapat menghindari tabrakan dengan matahari maupun lontaran ke ruang angkasa.

Contoh ini hanya merupakan sebagian kecil bukti dari keseimbangan luar biasa di dalam tata surya. Siapa pun yang memiliki akal dapat memahami bahwa keseimbangan yang menempatkan planet-planet besar dan seluruh tata surya dalam keteraturan, dan yang memelihara keteraturan ini hari demi hari dan abad demi abad, tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Tampak jelas bahwa keteraturan ini telah diperhitungkan dengan sangat cermat. Allah, yang Mahakuasa, menunjukkan kepada kita, dengan berbagai kesempurnaan rinci yang telah Dia ciptakan di alam semesta, bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Para ahli astronomi seperti Kepler dan Galileo, ilmuwan yang bekerja untuk menyingkapkan keseimbangan yang luar biasa pekanya dalam tata surya, beberapa kali menyatakan bahwa sistem ini mengisyaratkan perancangan yang sangat jelas dan merupakan bukti kekuasaan Allah di seantero jagat raya. Allah menciptakan dan berkuasa atas segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya yang tak terbatas; Dialah Yang Mahaperkasa.

PLANET YANG TIADA TARANYA: BUMI
Pikirkanlah sejenak tentang apa yang diperlukan manusia untuk tetap bertahan hidup. Air, matahari, oksigen, atmosfer, tumbuh-tumbuhan, dan hewan… Segala macam perincian, segala macam keadaan yang dapat atau tidak dapat Anda pikirkan pada saat itu sudah tersedia secara alami di bumi. Selain itu, bila kita mengkaji lebih jauh, kita dapat melihat bahwa semua kebutuhan pokok hidup ini memiliki jalinan seluk-beluknya yang saling terkait, dan bahwa segala hal ini terdapat dalam keadaan sepenuhnya sempurna di bumi. Segala sesuatu di bumi, makhluk hidupnya, tetumbuhannya, langit, dan lautan, semuanya telah diciptakan dengan cara yang terbaik dan lengkap sempurna agar sesuai dengan keberadaan dan kelangsungan hidup umat manusia.

Selain bumi, ada pula planet-planet lain di dalam tata-surya kita. Tetapi, di antara planet-planet ini, satu-satunya planet yang memungkinkan adanya kehidupan adalah bumi. Jarak antara bumi dengan matahari, kecepatan perputaran bumi pada sumbunya, kemiringan sumbu bumi terhadap orbitnya, struktur permukaan bumi, dan berbagai faktor lepas lainnya yang sejenis, memungkinkan planet kita menikmati kehangatan suhu yang sesuai bagi kehidupan dan dapat menyebarkan kehangatan ini di seantero bumi secara merata. Susunan lapisan udara bumi serta ukuran bumi juga tepat sesuai kebutuhan. Cahaya yang sampai kepada kita dari matahari, air yang kita minum, dan makanan yang kita nikmati semuanya sangat sesuai bagi kehidupan kita.

Singkatnya, segala tinjauan terhadap planet yang kita huni akan menunjukkan kepada kita, bahwa bumi dirancang terutama untuk manusia. Agar kita dapat melihat bahwa keadaan di bumi dirancang secara khusus, kita cukup melihat kondisi di planet-planet lain secara kasar. Ambillah Mars, misalnya. Lapisan udara di Mars merupakan campuran beracun yang mengandung karbondioksida dalam kadar tinggi. Tidak ada air di permukaan planet. Kawah besar yang terjadi akibat tubrukan meteor raksasa tampak jelas dalam gambar di sebelah kanan ini. Begitu pula dengan cuaca, sering terjadi badai raksasa dan badai pasir yang berlangsung selama berbulan-bulan tanpa henti. Suhu rata-rata -53oC (-64oF).

Dengan mempertimbangkan ciri-ciri ini secara keseluruhan, Mars, yang memiliki paling banyak kesamaan dengan bumi di antara planet-planet yang berada di sekitar kita, jelas merupakan planet mati yang tidak memungkinkan adanya kehidupan. Perbandingan ini dengan gamblang menunjukkan bahwa ciri-ciri yang menjadikan bumi sebuah tempat yang dapat dihuni benar-benar merupakan nikmat yang tidak terkira. Dia Yang menciptakan seluruh jagat raya, membentuk dengan sempurna bintang-bintangnya, planet-planet, pegunungan dan lautan, adalah Allah. Sepanjang kehidupan kita, kita harus berterimakasih atas nikmat dan ciptaan-Nya, dan menjadikan-Nya sahabat dan pelindung. Allah, Pemilik segala sesuatu, adalah pemilik segala pujian. Allah menyampaikan hal ini dalam Al-Quran:

PESONA DI ALAM RAYA

Pesona di Alam Raya

PENDAHULUAN
Sejenak, pikirkanlah tentang hal-hal yang Anda lakukan saat Anda bangun tidur di pagi hari. Anda membuka mata, bernafas, meregangkan otot-otot, berdiri dan berjalan, makan dan mengenakan pakaian. Anda berbicara dengan orang-orang yang Anda cintai dan mendengarkan apa yang mereka katakan kepada Anda. Kemudian, Anda pergi ke luar atau melihat ke luar jendela dan menyaksikan langit yang biru cerah. Bahkan mungkin Anda mendengar nyanyian burung yang beterbangan di luar jendela. Saat Anda melihat sehelai daun yang jatuh, tampak apel yang ranum di pohon. Anda merasakan kehangatan matahari dan hembusan angin menerpa wajah Anda. Ada banyak orang di jalanan, sedang berjalan kaki ataupun mencoba menuju ke suatu tempat dengan mengendarai mobil. Singkatnya, satu lagi lembaran hari yang biasa saja telah mulai bergulir di hadapan Anda. Apa yang Anda lihat dan dengar hanyalah hal yang biasa saja, sehingga Anda tidak merasa perlu berpikir secara sadar dan penuh perenungan tentang semua itu.

Sekarang, cobalah berpikir dengan cara lain. Anggaplah Anda selama ini tinggal dalam sebuah ruangan sejak Anda lahir. Ruangan ini benar-benar kosong dan tertutup, sampai-sampai tidak ada satu jendela kecil pun untuk melihat keluar. Kamar ini dilengkapi hanya dengan sejumlah kecil perabotan sederhana, cukup untuk kebutuhan dasar Anda saja. Anggaplah bahwa di kamar tempat Anda menjalani hidup Anda ini, Anda hanya dibekali beberapa jenis makanan dan minuman yang diperlukan untuk bertahan hidup. Mari kita anggap tidak ada peralatan komunikasi apa pun di kamar itu, seperti telepon, radio, atau televisi, yang memungkinkan Anda menerima informasi dari dunia luar. Maka, Anda tidak akan mengetahui apapun selain sekelumit hal saja.

Kemudian bayangkan bahwa Anda dibawa keluar dari ruangan ini tempat Anda menjalani seluruh kehidupan Anda selama ini, dan Anda melihat dunia luar untuk pertama kalinya. Dalam keadaan demikian, apa yang akan Anda pikirkan tentang dunia ini?

Luasnya pemandangan yang sampai ke mata Anda, adanya cahaya, kehangatan sinar matahari yang menerpa wajah Anda, warna langit yang biru cerah dan awan yang putih murni- semua ini tentu akan membuat Anda terpesona.

Kelap-kelip bintang yang muncul di langit malam hari; pegunungan yang menjulang tinggi ke langit dengan segala keperkasaannya; sungai yang indah memukau setiap manusia; danau dan lautan; hujan deras yang menimbulkan kehidupan di bumi; pepohonan hijau, bunga violet, melati, kenanga, lila, dan mawar beraneka warna, dengan harumnya yang semerbak; jeruk, semangka, buah plum dan buah persik, masing-masing memberikan rasa yang khas dan berbeda-beda; kucing, anjing, kelinci dan rusa, yang membangkitkan belas kasih dan rasa haru kita; kupu-kupu dengan warna yang memesona dan daya tarik yang berseni indah; burung-burung dan makhluk bawah laut …

Saat Anda menyaksikan semua ini, Anda jadi terpesona dan bertanya-tanya siapakah yang telah mewujudkan berbagai gejala yang indah menakjubkan ini. Melihat warna buah-buahan dan menghirup baunya, Anda bertanya-tanya siapakah yang telah mewarnainya dengan begitu menggiurkan dan memberinya bau harum yang begitu menyenangkan. Ketika mencicipi buah melon atau menggigit apel, Anda menyadari betapa lezat dan berbeda cita rasanya, dan bertanya-tanya bagaimana bahan manis seperti gula ini ditempatkan dalam suatu benda yang terbungkus kulit yang begitu rapat dan kuat. Saat melihat biji buah-buahan tersusun dalam urutan tertentu yang teratur, Anda ingin tahu siapakah yang telah mengatur penataan ini.

Setiap hal baru yang Anda lihat dan setiap penggalan informasi yang Anda pelajari membangkitkan gairah baru dalam diri Anda. Anda mencoba mempelajari sebab-musabab dan asal-usul segala sesuatu. Anda mendapatkan pengetahuan bahwa buah melon memerlukan benihnya untuk berkembang biak, burung memang harus punya bulu untuk terbang, cahaya dipancarkan dari matahari, lalu oksigen dan air diperlukan bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup. Anda belajar pentingnya keberadaan laut dan samudra, adanya fakta bahwa segala jenis informasi tentang tanaman disandikan dalam benihnya, serta beragam seluk-beluk lainnya yang menakjubkan. Setiap tambahan pengetahuan yang Anda dapatkan menjadikan Anda semakin mampu memahami keagungan ini.

Selain itu, saat Anda menyadari bahwa apa yang telah Anda pelajari hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluk-beluk makhluk hidup yang ada di bumi, bahwa sebenarnya segala sesuatu bekerja dengan saling berketergantungan, bahwa ada makhluk yang tidak dapat Anda lihat dan suara-suara yang tidak dapat Anda dengar, dan bahwa terdapat sistem yang menakjubkan di alam semesta, maka rasa takjub Anda akan semakin besar.

Saat Anda peroleh penggalan informasi yang rinci ini satu demi satu, pertanyaan yang sama akan muncul berulang-ulang dalam benak Anda: Bagaimana semua makhluk hidup yang luar biasa ini menjadi ada? Bagaimana pula saya ada di dunia ini? Karena segala sesuatu mempunyai tujuan, lalu mengapa saya ada di sini?

Saat Anda muncul dari ruangan yang sudah Anda huni bertahun-tahun, karena Anda akan menemukan pemandangan beraneka ragam dan sangat menakjubkan pada ciptaan yang ada di bumi, Anda akan merenung dan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan Anda. Setiap jawaban terhadap pertanyaan Anda akan mengandung pernyataan ini: “Tentu saja, ada Yang membuat semua benda-benda ini.” Karena Anda tidak terkungkung oleh pikiran yang malas dan tidak mengamati lingkungan Anda dari balik tirai kebiasaan, Anda pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa segala sesuatu telah diciptakan oleh Sang Pencipta. Sungguh, yang perlu dilakukan seorang manusia tidak lain adalah: mengamati segala sesuatu tidak berdasarkan kebiasaan, tetapi dengan mengajukan pertanyaan …

Seperti halnya ada seorang perancang yang telah membuat jembatan baja yang kita lewati setiap hari, maka ada pula perancang yang telah merancang tulang-tulang kita, yang kekuatannya telah dibandingkan dengan baja. Tak seorang pun dapat berkata bahwa besi dan batu bara mentah dapat saling bercampur secara tak sengaja untuk menjadi baja, atau bahwa baja dapat digabungkan dengan semen agar membentuk jembatan dengan cara sama. Semua orang tahu bahwa jalan pikiran orang yang berkata demikian harus dipertanyakan.

Namun, kendatipun demikian, masih ada orang-orang yang berani menyatakan bahwa semua makhluk hidup di bumi, langit, bintang-bintang, dan pendeknya, segala sesuatu, terwujud menjadi ada tanpa sengaja. Namun tampak jelas bagi orang yang cerdas, yang mau berhenti sejenak dan merenungkan hal-hal seperti ini, bahwa pernyataan tentang kemunculan secara acak dan nirsengaja ini adalah tidak masuk akal sama sekali.
Kebetulan Yang Mustahil

MENELADANI ROSULULLAH

Meneladani Rasulullah SAW

Cinta Rasul Oleh : Redaksi 03 Apr 2006 - 11:00 am
imageHari-hari sebelum tanggal 12 Rabiul Awal dan sesudahnya umat Islam di berbagai tempat, terutama di Indonesia, sudah mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, atau biasa disebut Maulid Nabi. Peringatan itu lazim diselenggarakan dengan menampilkan dai-dai dan ulama kondang. Mereka satu per satu menjelaskan kepada hadirin tentang segala hal yang terkait dengan Rasulullah SAW. Misalnya tentang akhlak, perilaku, dan perjuangan, dan sejarah hidup beliau.

Meskipun tergolong bid'ah, namun peringatan Maulid Nabi tergolong bid'ah hasanah. Dalam arti, peringatan Maulid Nabi belum ada ketika Rasulullah masih hidup. Peringatan itu baru diselenggarakan ratusan tahun setelah beliau wafat. Ada beberapa versi mengenai awal mula diselenggarakan Peringatan Maulid Nabi. Namun, yang paling masyhur peringatan Maulid Nabi digagas pertama kali oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1137-1193).

Alkisah, umat Islam, terutama tentara Islam sudah mulai putus asa menghadapi tentara Nasrani dalam berbagai peperangan (Perang Salib). Lalu Sultan Salahuddin memerintahkan para ulama agar memberi semangat kepada umat Islam. Caranya, dengan pidato-pidato di depan masyarakat banyak yang menjelaskan tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW pada hari-hari menjelang kelahiran beliau. Hasilnya, semangat juang umat Islam pun bangkit. Dalam berbagai medan perang, mereka pun meraih kemenangan.

Berangkat dari latar belakang seperti itulah, para ulama kemudian menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai tradisi. Dan, kita tentu sangat baik bila mengikuti tradisi itu. Dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi yang kita selenggarakan sekarang ini, kita harapkan semangatnya tidak bergeser dari zaman Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Yakni: mengobarkan semangat umat Islam. Semangat yang dimaksud tentu bukan untuk berperang melawan musuh secara fisik. Sebab musuh secara fisik mungkin sudah tidak diperlukan.

Tapi musuh-musuh dalam bentuk lain kini semakin merajalela dan siap menghadang. Musuh-musuh kita itu adalah kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, sikap emosi, dan berbagai perilaku yang menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan berabagai perilaku yang menyimpang dari ajaran Islam itu lebih banyak lahir justru karena kita kurang meneladani Rasulullah SAW.

Kecintaan kita kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW memang belum luntur atau bahkan mungkin semakin bertambah. Sebagai misal, kita marah ketika Nabi Muhammad SAW dilecehkan dan dihinakan. Sikap demikin tentu terpuji dan merupakan bentuk dari cinta kita kepada Rasulullah SAW.

Tapi, hanya marah ketika Nabi Muhammad SAW dihinakan tentulah belum cukup. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus pula disertai dengan meneladai perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah agama sudah mengajarkan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik? Jujur harus kita akui bahwa perilaku sehari hari kita masih jauh dari teladan beliau.

Sebagai contoh, kita masih sering emosional dan tidak sabar, kita masih sering menyakiti anggota keluarga suami/istri dan anak-anak dan tetangga serta teman. Kita masih sering mementingkan diri sendiri dan tidak toleran kepada orang lain. Banyak dari kita belum peduli kepada yatim-piatu, fakir-miskin (dhuafa), dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Banyak dari kita juga masih mengambil yang bukan hak: Korupsi, mencari nafkah tidak halal, dan bahkan memperkaya diri sendiri. Banyak dari kita masih belum menjadikan kehadiran diri sebagai rahmat (manfaat) bagi orang lain. Intinya, kita masih belum menjadikan Rasulullah sebagai teladan bagi kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus kita wujudkan dalam meneladani beliau. Ya dalam berperilaku, dalam berekonomi, berpolitik, bersosial, berbudaya, dan seterusnya. Kita yakin bangsa dan negara akan bertambah baik bila kita semua pemimpin dan rakyat mengikuti teladan Rasulullah SAW. (RioL )


TINJAUAN MIMPI DALAM PSIKOLOGI


Hampir sepertiga bahkan lebih dari kehidupan manusia pada umumnya dihabiskan untuk tidur. Jika usia rata-rata manusia 60 tahun, maka selama 20 tahun diisi dengan tidur. Waktu yang tidak sedikit bukan? Namun dengan tidur, tidak berarti manusia melewati masa sia-sia karena tidur menjaga metabolisme tubuh agar tetap stabil. Menurut hasil penelitian, setelah 72 jam tidak tidur, akan menyebabkan gangguan psikotik.
Dengan tidur pula, kita dapat mengakses dunia yang memperantarai dua alam (fenomena dan abstrak) melalui mimpi. Mimpi juga memiliki manfaat, pertama; sebagai pemenuhan keinginan terlarang (Freud) misalnya: menonjok jidat pejabat negara yang kita benci tanpa dipidanakan, dan jika beruntung, kita dapat “berhubungan seksual” dengan artis idola dunia yang cantik atau ganteng. Kedua; sebagai sumber ilmu maupun risalah kenabian (Ibn Arabi).
Sadruddin Qunawi, murid Ibn Arabi mengatakan bahwa “Syeikh kita Ibn Arabi memiliki kemampuan bertemu dengan ruh nabi atau wali yang telah meninggal dunia, baik dengan cara membuatnya turun ke taraf dunia ini dan merenungkannya di dalam tubuh penampakan (surah mitsaliyah) yang serupa dengan bentuk indrawi orangnya atau dengan membuatnya muncul dalam mimpi, atau dengan melepaskan diri dari tubuh materiil supaya menemui sang ruh.2
Dalam karya pertama yang sangat monumental, Interpretation of Dream, Freud menjadikan mimpi sebagai obyek riset psikoanalisis untuk mengatasi gangguan-gangguan neurosis pada pasiennya. Dengan karyanya ini, Freud mulai diperhitungkan perannya dalam dunia psikologi. Tidak sedikit yang dipengaruhinya, diantaranya C.G. Jung, Alfred Adler yang kemudian bergabung dibawah naungan psikoanalisis Freud, meski tidak berlangsung lama. Bahkan, banyak ahli psikoterapi yang menekankan pentingnya analisa mimpi.
Kalau kita lacak lebih jauh, sekitar 600 tahun sebelum teori ini muncul, Ibn Arabi (filosof sekaligus sufi dari Spanyol) sebenarnya pun sudah banyak membahas tentang mimpi. Banyak kelebihan teori mimpinya yang tidak dimiliki oleh Freud, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya tulisan ini tidak bermaksud untuk menonjolkan kelebihan satu tokoh diantarannya, namun lebih menekankan pada titik temu sekaligus perbedaannya untuk mencari sinergi bagi lahirnya sebuah teori tentang mimpi yang lebih utuh untuk pengembangan psikoterapi di masa mendatang.

Definisi Mimpi
Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur.3 Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga.4 Jika Freud seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis yang salah, selip bicara (keprucut), maupun lelucon, maka Ibn Arabi mengidentifikasinya sebagai bagian dari imajinasi.
Bagi Ibnu Arabi, karena mimpi adalah bagian dari imajinasi, maka untuk memahami terminologi mimpi dalam khazanah pemikirannya, terlebih dahulu mengacu pada makna imajinasi itu sendiri. Baginya, imajinasi adalah tempat penampakan wujud-wujud spiritual, para malaikat dan roh, tempat mereka memperoleh bentuk dan figur-figur “rupa penampakan” mereka, dan karena disana konsep-konsep murni (ma`ani) dan data indera (mahsusat) bertemu dan memekar menjadi figur-figur personal yang dipersiapkan untuk menghadapi drama event rohani.5
Ia juga menambahkan, bahwa kecakapan imajinasi itu selalu aktif baik sedang dalam keadaan bangun maupun dalam keadaan tidur. Selama jam-jam bangun kecakapan ini juga disimpangkan oleh kesan-kesan indera (sense impression) untuk melakukan pekerjaannya secara wajar, tapi dalam keadan tidur, ketika indera-indera dan kecakapan lainya sedang istirahat, imajinasi terbangun semua.6

Hakikat Mimpi
Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998) bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk mrengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi.7
Sementara dalam teori Ibn Arabi lebih bersifat komplementer, setidaknya dalam hal ini, disamping memiliki substansi sebagai pemenuhan keinginan, Ibn Arabi juga memandang situasi penciptaan sebagai pernyataan tidur, dimana kosmos (semesta-pen) yang tercipta terlihat sebagai mimpi Ilahi. Pengalaman manusia merupakan citra mikrokosmik. Oleh karena itu, seluruh situasi penciptaan yang memerlukan alam “yang lain” untuk mempengaruhi tujuannya, dapat dipandang sebagai semacam lamunan Ilahi, dimana ilusi sesuatu yang “bukan Aku” diperkenalkan pada kesadaran Ilahi sebagai refleksi posibilitasnya.8

Jenis dan Manfaat Mimpi
Freud mengenalkan satu jenis mimpi yaitu mimpi kanak-kanak, dimana pada tahun-tahun berikutnya akan ditemukan mimpi yang bertipe sama, bahkan pada orang dewasa, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi yang valid serta dapat digeneralisasi pada tahapan berikutnya. Tekhnik tersebut lazim dilakukan oleh Freud, sebagaimana acuan tahapan-tahapan psikoseksual dalam teori kepribadiannya. Berbeda dengan Jung, rekan sekaligus muridnya, yang membagi mimpi menjadi dua; mimpi retrospektif dan mimpi introspektif.
Sedangkan Ibn Arabi membagi mimpi menjadi tiga, Pertama; mimpi atau kesan-kesan yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari dari orang itu dan mengirimkannya ke ”mata batin” dari hati yang merefleksikan dan membesarkan mereka seperti layaknya sebuah cermin. Dengan cara inilah, mimpi biasa muncul sebagai asosiasi-asosiasi dari pikiran-pikiran (ideas) dan kesan-kesan (images) yang menghubungkan diri mereka sendiri dengan beberapa obyek syahwat.9
Jika kita cermati, melihat manfaat jenis mimpi Ibnu Arabi tersebut ada kemiripan dengan teori Freud, meski ia tidak mengkategorikannya sebagai bagian jenis mimpi. Freud menyebutnya sebagai pemenuhan atau refleksi keinginan seseorang, baik berupa kesenangan, maupun sesuatu yang mengerikan (mimpi buruk) sekalipun. Baginya, hal itu terjadi karena adanya mimpi yang terdistorsi yang tidak memperlihatkan adanya pemenuhan keinginan yang jelas sehingga harus dicari terlebih dahulu dan diinterpretasikan. Kita juga mengetahui bahwa keinginan yang mendasari mimpi yang terdistorsi adalah keinginan-keinginan yang dilarang dan ditolak oleh penyensoran, sehingga eksistensi mereka menjadi penyebab distorsi dan merupakan motif campur tangan penyensoran.10
Kedua: semacam arus yang mengalir namun tetap bersih, dimana dipancarkan obyek-obyek segala gambaran (mimpi simbolis-pen). Ibn Arabi menyatakan bahwa walaupun mimpi-mimpi semacam itu dapat dipercaya, namun itu harus ditafsirkan karena hanya berupa simbol-simbol saja. Imajinasilah yang mensuplai simbol-simbol itu. Dan kita tidak harus mengambil simbol-simbol itu secara realitas. Ketika Nabi melihat susu di dalam mimpinya, ia hanya melihat simbol saja, kualitas di balakang air susu itu adalah “pengetahuan”.11
Freud mengatakan bahwa simbolisme merupakan bagian paling mengagumkan dalam teorinya. Karena dalam beberapa kondisi, simbol memungkinkan kita menginterpretasikan mimpi tanpa harus mengajukan pertanyaan pada orang yang mengalami mimpi yang kadang-kadang malah tidak bisa memberitahukan apa-apa tentang simbol-simbol itu. Disini Freud juga mencoba menyimpulkan beberapa hal mengenai simbolisme dalam mimpi. Pertama; kita menentang pendapat bahwa orang yang bermimpi merasa tidak mengetahui bahwa simbol-simbol berhubungan dengan kehidupan dalam kondisi bangun. Kedua; hubungan simbolik bukan sesuatu yang khas bagi orang yang bermimpi, tapi ruang lingkup simbolisme sangat luas. Simbolisme mimpi hanya bagian kecil saja. Ini berbeda dengan simbolisme pada mitos, dongeng dan sebagainya. Ketiga; simbolisme yang muncul di bidang lain ternyata berhubungan dengan tema-tema seksual seperti dalam mimpi simbol-simbol yang sama juga melambangkan obyek dan hubungan seksual, misalnya: simbol phallic (alat kelamin) yang diinterpretasikan Jung sebagai unsur arketipe “mana” (spiritual).
Tapi bagi Freud dianggap sebagai alat kelamin yang sebenarnya. Intinya, Freud seringkali mengkait-kaitkan simbolisme dalam mimpi sebagai organ atau aktivitas seksual seperti; sepatu, sandal, dataran, kebun serta bunga sebagai perlambang vagina, sementara dasi diartikan sebagai penis, dan bahan dasi (linen) adalah lambang milik wanita. Sedangkan baju dan seragam melambangkan ketelanjangan. Keempat: simbolisme adalah faktor kedua dan faktor independen dalam distorsi mimpi yang hidup berdampingan dengan penyensoran.12
Adapun manfaat yang dapat dipetik dari jenis mimpi ini adalah berupa; pengetahuan. Pemenang nobel, Loevi, memimpikan sebuah eksperimen selama 3 malam. Pada malam pertama, ia membuat catatan tapi tidak bisa menguraikannya kembali dan pada malam ketiga ia terbangun melakukan eksperimen dan memecahkan penemuannya.13
Ketiga: mimpi spiritual non simbolik, yaitu; mimpi-mimpi yang dapat dipercaya yang tidak ada simbolnya. Disini imajinasi tidak campur tangan. “Hati” langsung merefleksikan kesan-kesan spiritual (ma`ani ghaibiyah). Sebelum imajinasi dapat membaca makna simbolik apapun. Mimpi-mimpi jenis ini tidak memerlukan penafsiran, mereka adalah wahyu-wayu dari yang riil itu sendiri. Dan mimpi-mimpi berhubungan dalam tiap rinci dengan segala sesuatu yang dilihat (kemudian) di dalam dunia luar. Dalam mimpi golongan ini terdapat wahyu (revelation) dan ilham, inspirasi yang keluar langsung dari jiwa individual.14 Karakteristik serta manfaat dari mimpi jenis ini hanya dapat diperoleh oleh jiwa-jiwa yang telah menjalani penyucian hati hingga mencapai tarafnya para wali atau para nabi.
Kategori mimpi ketiga inilah yang sama sekali tidak disinggung oleh Sigmund Freud dalam teorinya, bahkan tidak mampu dijamah oleh C.G.Jung dalam klasifikasi teori mimpinya.

Interpretasi Mimpi
Mengenai interpretasi tentang mimpi , Ibn Arabi mengatakan bahwa segala sesuatu datang dalam alam imajinasi karena mereka tafsirkan. Ini berarti bahwa sesuatu itu sendiri memiliki bentuk tertentu yang muncul dalam bentuk lain sehingga sang penafsir mendapatkan sesuatu dari bentuk yang dilihat oleh si pemimpi kepada sesuatu itu sendiri. Jika dia berasil, seperti munculnya pengetahuan dalam bentuk susu kepada bentuk pengetahuan, sehingga mengubah makna sesungguhnya dari keduanya- dari satu bidang ke bidang lainnya, yang merupakan perubahan yang tepat dari bentuk susu menjadi bentuk pengetahuan.
Ketika Yusuf as berkata “Aku melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, yang kulihat semuanya sujud padaku”. Yusuf melihat saudara-saudaranya dalam bentuk bintang-bintang dan melihat ayah dan bibinya sebagai matahari dan bulan, ini sudut pandang Yusuf. Tetapi, dilihat dari sudut pandang siapapun juga, perwujudan saudara-saudara sebagai bintang, dan ayah serta bibinya sebagai matahari dan bulan dikaitkan dengan harapan dan doa mereka. Jadi, selama mereka tidak ada pengetahuan atas apa yang dilihat Yusuf mengenai apa yang ia lihat, berperan melalui kemampuan imajinatifnya sendiri. Ketika Yusuf memberitahu Ya`qub tentang pandangannya ini, Ya`qub memahami situasi ini dan bersabda, “ Anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada sudara-saudaramu, kalau tidak, mereka akan membuat makar (untuk membinasakanmu)”. Kemudian Ya`qub mulai membebaskan putranya dari makar dan menempatkan itu di pintu syetan yang sangat mahir dalam soal makar, sambil mengatakan, “sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”, yang secara lahiriah memang begitu.
Lebih jauh lagi, Yusuf berkata, “inilah arti mimpiku yang dahulu itu, sesungguhya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan”, yaitu Tuhan menjadikannya terwujud pada pikiran sehat, yang sebelumnya terbentuk dari imajinasi. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad bersabda, “manusia tidur”, sedangkan Yusuf berkata, Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan”. Karena berkenaan dengan apa yang dikatakan sang Nabi, ia berada dalam posisi seseorang yang bermimpi sehingga beliau telah terbangun dari sebuah mimpi dan kemudian menafsirkannya. Orang seperti ini tidak mengetahui bahwa dia masih tertidur dan bermimpi, tetapi saat terbangun, dia berkata,”Aku telah melihat begini dan begitu, yang, dengan bermimpi bahwa aku telah bangun, aku tafsirkan.” Sama seperti inilah situasi Yusuf. 15
Ungkapan Ibn Arabi mengenai pengetahuan pemimpi atas makna mimpinya, hampir senada dengan apa yang dikemukakan oleh Freud, bahwa “dalam kasus mimpi, orang yang bermimpi selalu mengatakan tidak tahu apa makna mimpinya. Sedangkan kita juga tidak mempunyai apapun untuk memberi penjelasan kepadanya. Tapi saya akan meyakinkan anda bahwa masih ada kemungkinan, bahkan cukup besar, karena orang yang bermimpi itu sebenarnya mengetahui apa makna mimpinya, Hanya saja dia tidak tahu bahwa dia mengetahuinya sehingga dia mengira dirinya tidak tahu apa-apa.16
Seperti pembahasan mengenai simbolisme, dalam interpretasinya, Freud lebih mengaitkan dengan tema-tema seksual dengan melambangkan simbol-simbol tersebut dengan obyek maupun aktivitas seksual. Demikian pula halnya dengan Ibn Arabi, Ia hanya memberikan ruang untuk penafsiran pada jenis mimpi simbolis. Tentu interpretasinya tidak hanya sebatas penekanan pada obyek-obyek seksual. Perbedaan definisi, hakikat, jenis mimpi, manfaat serta interpretasi mimpi antara teori Ibn Arabi dengan Freud yang telah kami jelaskan diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:
Mungkin pandangan Freud lebih lengkap dari Ibnu Arabi mengenai cara kerja, sensor mimpi serta teknik-teknik interpretasi secara detail. Hal ini bisa jadi karena masih terbatasnya karya-karya Ibn Arabi yang dapat diakses atau memang rumitnya pemahaman atas konsepnya, sebagaimana yang diilustrasikan oleh A.J. Arberry bahwa “Ibn Arabi bisa dibandingkan dengan sebuah puncak gunung yang belum dieksplor, banyak wilayah pada sisi yang sudah dikenal, tetapi masih harus ditentukan dengan tepat bagaimana arah menuju puncaknya, atau dengan ketinggian apa air mancur itu meluapi dengan baik pada sungai yang kuat dari semua pemikiran mistik selanjutnya, baik muslim maupun Kristen17
1. Pengertian Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. EI ini tidak saling bertabrakan dengan IQ karena memang punya wilayah ‘kekuasaan’ yang berbeda. IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EI lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah. Karena untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi.
EI bukan merupakan bakat, tapi aspek emosi di dalam diri kita yang bisa dikembangkan dan dilatih. Jadi setiap orang sudah dianugerahi oleh Tuhan kecerdasan emosi. Tinggal sejauh mana pengembangannya, itu tergantung kemauan kita sendiri. Satu yang pasti, EI kita akan terbentuk dengan baik apabila dilatih dan dikembangkan secara intensif dengan cara, metode dan waktu yang tepat.
Ada lima wilayah utama dalam EI, yakni : mengenali emosi diri, mengendalikan emosi diri, memotivasi diri, mengenali emos orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. EI yang baik akan mampu memaksimalkan prestasi kita. Kita bisa bekerja efektif dalam sebuah tim, bisa mengenali dan mengendalikan emosinya sendiri dan orang lain dengan tepat. Umumnya, orang yang memiliki EI tinggi akan terlihat bahagia dan produktif serta sehat jasmani dan rohani.
2.Aspek-Aspek Kecerdasan Emosi
Aspek - aspek kecerdasan emosi menurut Rakhmat, 1985 adalah sebagai berik
a. Pengelolaan diri
Mengandung arti bagaimana seseorang mengelola diri dan perasaan-perasaan yang dilaminya.
b. Kemampuan untuk memotivasi diri
Kemampuan ini berguna untuk mencapai tujuan jangka panjang, mengatasi setiap kesulitan yang dialami bahkan untuk melegakan kegagalan yang terjadi.
c. Empati
Empati ini dibangun dari kesadaran diri dan dengan memposisikan diri senada, serasa dengan emosi orang lain akan membantu anda membaca dan memahami perasaan orang lain tersebut.
d. Ketrampilan sosial
Merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari seseorang semenjak kecil mengenai pola-pola berhubungan dengan orang lain.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi
Walgito (1993) membagi faktor yang mempengruhi pesepsi menjadi dua faktor yaitu :
a. Faktor Internal.
Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir dan motivasi.
b. Faktor Eksternal.
Faktor ekstemal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung. Faktor ekstemal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan.
1. teori james lounge
mereka mengeluarkan teory yang sama dalam waktu yang hampir sama
cara berfikirnya:
pemikiran secara umum : kuda datang –> muncul perasaan takut –> lari
pemikiran james lounge : kuda datang –> lari –> muncul rasa takut.
disinilah letak characteristik dari teory james lounge.
kesimpulannya : teory james lounge ini menjelaskan bahwa segera setelah kita merasakan stimulus(kuda datang) maka akan terjadi perubahan secara fisiologis baru kemudian muncul emosi yaitu berupa ketakutan. akan tetapi sebenarnya james lounge ini tidak pernah mengexperimentkan teorynya ini. ada seorang ahli ilmu syaraf yang tertarik pada studi ini mencoba untuk bereksperiment tentang teory ini.
berdasarkan teory ini berarti orang yang cacat yang tidak bisa melakukan gerak fisik tidak akan pernah merasakan emosi.tetapi kenyataannya mereka malu saat tahu klo mereka ngompol , trus ngeliat makanan enak tapi sadar klo makanan itu gak bisa dimakan, mereka jadi sedih, juga terkadang mereka kelahi dengan perawatnya. tetapi walaupun demikian teory ini masih dipakai sampai sekarnag, karena ada masanya secara pengalaman teory ini benar.
contohnya : semakin nangis terkadang kita akan semakin merasa sedih, trus ada masanya pada saat kita ketakutan semakin kita lari perasaan takut itu semakin bertambah.
d) Teori Belajar Sosial (social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku

Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas kepribadian
1. CONSCIOUS | UNCONSCIOUS
Sadar dan tak sadar adalah dimensi yang sejak lama ada dalam teori kepribadian. Para pendukung Psikoanalisis (Freud, Jung, Horney) adalah orang-orang yang menekankan bahwa kepribadian dikontrol oleh proses yang tidak disadari. Sementara Psikologi Aliran Humanisme menekankan pada faktor kesadaran sebagai pembentuk kepribadian (Allport, Rogers, Maslow).
2. HEREDITY | ENVIRONMENT
Pada dasarnya hampir semua teori kepribadian mengakui peran faktor keturunan sebagai penentu kepribadian sseorang. Tetapi kalangan Behaviorist mengatakan bahwa kepribadian dapat dipahami tanpa harus mempertimbangkan faktor genetis dan biologis. Rogers & Bandura menekankan pada lingkungan sosial, dimana kepribadian adalah suatu proses belajar sosial seseorang.
3. ACQUISITION | PROCESS OF LEARNING
Teori Behaviorisme lebih menekankan pada proses belajar yang membentuk suatu kerpibadian, yaitu cara bagaimana suatu tingkah laku dimodifikasi. Dan biasanya teori-teori kepribadian mengakui peran proses belajar dalam pembentukan suatu kepribadian. Walaupun demikian, ada beberapa teorist yang juga menekankan pada acquisition of behavior, misalnya Cattel dan Murray.
4. PAST | PRESENT
Sigmund Freud adalah pendiri Psikoanalisis yang mengatakan bahwa kepribadian adalah hasil dari bentukan masa lalu, yaitu masa 5 tahun pertama kehidupan. Setelah masa itu, kepribadian hanyalah ulangan atau fiksasi dari apa yang didapat dulu. Dan pandangan ini menjadi pegangan dalam aliran psikoanalisis. Sementara Lewin dan Alport mengatakan bahwa yang terpenting dari kepribadian bukanlah masa lalu tetapi masa kini.
5. PERSON | SITUATION
Dimensi ini menekankan pada proses dimana kepribadian itu terbentuk. Penekanan pada Person berarti kepribadian adalah bentukan dari inner process yang terjadi dalam diri individu, sementara penekanan pada Situation berarti bahwa kepribadian adalah bentukan dari faktor lingkungan sosial dimana individu itu berada. Walaupun demikian ada juga yang menjadikan kedua dimensi itu sebagai dasar pembentukan suatu kepribadian. Fromm & Skinner, misalnya, menekankan pada faktor sosiokultural dalam kepribadian, sementara Sheldon dan Binswanger lebih menekankan pada faktor biologis internal dalam diri individu.
6. HOLISTIC | ANALITIC
Dimensi holistik menyaratkan bahwa suatu tingkah laku hanya dapat dimengerti berdasarkan konteksnya, dan juga segala sesuatu yang dilakukan oleh individu berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologis dan biologisnya. Sementara dimensi analitik berpendapat bahwa suatu tingkah laku bisa saja dipelajari dan didapat secara terpisah dari tingkah laku yang lainnya. Mereka yang beraliran analitik misalnya adalah Lewin dan Binswanger.
7. NORMAL | ABNORMAL
Banyak juga teori kepribadian yang menekankan pada abnormalitas suatu kepribadian. Dengan mempelajari abnormalitas itu maka pemahaman tentang orang normal dapat diperoleh. Perbedaan normal/abnormal dapat dilihat secara kualitatif yaitu melihat seberapa jauh hal-hal patologis dalam kepribadian itu berbeda dari yang normal. Allport dan Cattel, misalnya, menekankan pada orang-orang normal.

PSIKOLOGI ALA DARWIN

Ilmu psikologi yang dijelaskan berlandaskan teori evolusi Darwin ternyata keliru, kata para pakar. Metoda dan datanya tidak bisa dijadikan bukti. Psikologi evolusioner ala Darwin mulai tumbang !
Hidayatullah.com–Pakar biologi asal Belanda, Johan J. Bolhuis, yang juga presiden Royal Dutch Zoological Society, baru-baru ini menulis di terbitan ilmiah pro-evolusi terkemuka, Science, 6 Juni 2008. Di jurnal itu, profesor di Institute of Biology, Leiden University, Belanda ini membedah sebuah buku penting yang baru terbit, Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology (Psikologi Evolusioner sebagai Psikologi Salah Tempat), karya Robert C. Richardson.
Buku tersebut membongkar kekeliruan penerapan teori evolusi Darwin di bidang psikologi. Pendekatan evolusi ini menarik perhatian kalangan masyarakat luas karena, sebagaimana dituturkan Bolhuis, seringkali menyentuh bahasan-bahasan seperti birahi manusia, seks dan nafsu.
Psikologi ala Darwin
Dalam ulasannya yang berjudul “Psychology: Piling On the Selection Pressure” di majalah Science itu, Johan J Bolhuis menyatakan bahwa Charles Darwin memperluas cakupan teori evolusi dalam buku The Origin of Species-nya untuk menjelaskan kemampuan berpikir pada manusia. Ini dituangkan Darwin dalam bukunya yang lain, The Descent of Man, di mana Darwin berpendapat bahwa sifat-sifat pada diri manusia seperti moralitas dan emosi muncul melalui evolusi.
Dalam perkembangan selanjutnya, para pakar di bidang psikologi yang datang kemudian lalu mengekor jejak sang guru Charles Darwin, berusaha menerapkan teori evolusi untuk menjelaskan akal pikiran manusia, atau yang dikenal dengan istilah evolutionary psychology (psikologi evolusioner, yakni psikologi yang dijelaskan menurut teori evolusi). Lebih khusus lagi, psikologi evolusioner mengemukakan bahwa akal pikiran manusia terdiri dari simpul-simpul daya pikir yang berevolusi sebagai tanggapan atas tekanan seleksi yang dihadapi nenek moyang manusia pada Zaman Batu.
Evolusi adalah ideologi
Awalnya berupaya menjelaskan asal usul keanekaragaman makhluk hidup dengan menihilkan pencipta, teori evolusi pun lalu merambah ke ranah psikologi manusia. Ini menyiratkan betapa evolusi bukanlah sekedar teori di bidang biologi semata. Lebih luas dari itu, evolusi adalah ideologi atau akidah ateis materialis, yang diterima benar secara dogmatis, meski tanpa bukti nyata, dan dijadikan penganutnya sebagai cara pandang serta pijakan dalam mengembangkan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi manusia.
Karena dijadikan landasan dogma tanpa bukti di bidang psikologi evolusioner, tidak heran jika terjadi kejumudan dengan menolak penjelasan selainnya. Bolhuis menegaskan permasalahan penting ini:
“The main problem with evolutionary psychology is that it usually does not consider alternative explanations but takes the assumption of adaptation through natural selection as given.”
Permasalahan utama dengan psikologi evolusioner adalah biasa tidak dipertimbangkannya penjelasan-penjelasan alternatif tapi menjadikan anggapan (asumsi) adaptasi melalui seleksi alam sebagai kebenaran yang wajib diterima.
Perkataan di atas adalah bukti jelas yang menggambarkan sifat teori evolusi yang tidak mencerminkan teori ilmiah, melainkan akidah, dogma ataupun ideologi yang wajib diterima dengan menutup diri dari penjelasan lain.
Tak punya bukti
Sang pengarang buku Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology, Robert Richardson, adalah pendukung evolusi, yang percaya bahwa kemampuan psikologis manusia merupakan sifat yang terevolusi. Meskipun begitu, filsuf asal University of Cincinnati itu menyatakan bahwa penafsiran psikologi evolusioner dari sudut pandang biologi evolusi adalah salah. Richardson sampai pada kesimpulan tersebut berdasarkan kajiannya yang berpegang teguh pada ilmu pengetahuan, terutama pada metoda-metoda ilmiah yang digunakan dalam penelitian di bidang tersebut.
Menurut Bolhuis, karya Richardson ini merupakan pelengkap karya yang telah terbit sebelumnya, yang juga memberikan bantahan telak terhadap penerapan teori evolusi selama ini di bidang psikologi. Karya yang lebih dulu terbit tahun 2005 itu berjudul Adapting Minds (Akal Yang Beradaptasi), yang juga karya pendukung evolusi, David Buller, pakar filsafat asal Northern Illinois University. Berbeda dari Richardson, karya Buller lebih terperinci, menitikberatkan pada bukti-bukti dan memberikan penafsiran lain.
Para pakar psikologi evolusioner seringkali bersikukuh dengan pendapat mereka hingga timbul kesan bahwa kemampuan nalar manusia hanya dapat dipahami berdasarkan sejarah evolusi manusia. Akan tetapi dalam kajiannya, sebagaimana dituangkan di banyak tempat dalam bukunya Evolutionary Psychology as Maladaptive Psychology, Richardson berkesimpulan bahwa tidak ada bukti sejarah yang dapat digunakan untuk merekonstruksi evolusi kemampuan berpikir manusia.
Contoh nyatanya adalah kemampuan berbahasa pada manusia. Penjelasan yang cenderung digunakan dalam psikologi evolusioner adalah bahwa proses evolusi mendorong kemunculan keterampilan berbahasa tersebut untuk digunakan dalam kelompok masyarakat kompleks. Dengan kata lain, ada kebutuhan akan bahasa. Richardson berpendapat bahwa para pakar fosil mustahil akan menemukan bukti-bukti yang dapat memberikan informasi tentang tatanan sosial masyarakat nenek moyang manusia.
Rekaan belaka
Bahkan kalaupun bukti-bukti yang diperlukan dalam pengkajian kemampuan berpikir manusia berdasarkan psikologi evolusioner dapat dikumpulkan, hal ini tidak akan menghasilkan pengetahuan tentang mekanisme kemampuan berpikir manusia, ulas Bolhuis yang juga menjabat sebagai profesor tamu di Department of Zoology, University of Salzburg, Austria. Sebab, kajian tentang evolusi berkutat pada rekonstruksi sejarah sifat-sifat manusia.
Kajian tersebut tidak, dan tidak dapat, menelaah mekanisme yang terlibat pada otak manusia, yang merupakan bidang kajian ilmu saraf dan psikologi kognitif. Dengan demikian pengkajian psikologi berlandaskan teori evolusi tidak akan pernah berhasil, karena berupaya menjelaskan mekanisme-mekanisme tapi secara tidak tepat mengacu pada sejarah mekanisme-mekanisme tersebut. Ini diibaratkan sang pengarang seperti menjelaskan struktur tanaman anggrek dengan merujuk pada keindahannya.
Di akhir ulasannya mengenai buku Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology (Psikologi Evolusioner sebagai Psikologi Salah Tempat), profesor Bolhuis mengatakan bahwa hasil kajian Richardson mengungkap betapa kajian psikologi berdasarkan teori evolusi sebagian besarnya adalah rekaan semata:
In this excellent book, Richardson shows very clearly that attempts at reconstruction of our cognitive history amount to little more than “speculation disguised as results.”
Dalam buku luar biasa ini, Richardson memperlihatkan dengan sangat gamblang bahwa upaya-upaya dalam penyusunan ulang sejarah kemampuan berpikir kita sedikit lebih dari “rekaan yang disamarkan sebagai hasil.” (Science 6 Juni 2008, Vol. 320. no. 5881, hal. 1293).
Atau sebagaimana diulas pula dalam editorial buku terbitan The MIT Press (http://mitpress.mit.edu) tersebut:
It is speculation rather than sound science–and we should treat its claims with skepticism. ([Psikologi evolusioner] itu lebih merupakan rekaan daripada ilmu pengetahuan yang mapan – dan kita sepatutnya memperlakukan pernyataan-pernyataannya dengan keraguan).
Mudah-mudahan psikologi evolusioner yang terbukti keliru ini, namun telah lama diajarkan di dunia akademis, tak terkecuali di lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, semakin mendapatkan pencerahan alternatif. Semoga.

ANALISIS MIMPI

Analisis mimpi ( Sigmund Freud )

By intanpsikologi
Analisis mimpi ( Sigmund Freud )
A.         Kasus
Saya memiliki teman dekat dimana dari kecil dia adalah anak yang penakut akan hal-hal gaib. Sehingga, semasa kecil dia selalu takut untuk menonton film seram. Ditambah lagi mendengar cerita seram dari orang-orang terdekatnya. Namun hal itu tetap dia lakukan. Sampai-sampai dia pernah terbawa mimpi akibat menonton film seram yang menyebabkan dia ngompol karena rasa takut yang dia rasakan. Disamping itu, dia juga termasuk anak yang sangat aktif dalam melakukan suatu aktivitas. Setiap pulang sekolah dia bermain bersama teman-teman. Namun, hal itu membuat ayahnya marah. Karena setiap pulang sekolah dia suka bermain, yang seharusnya tidur siang. Sehingga keniginan untuk bermain sering tertunda. Jika ayahnya tidak dirumah dia suka bermain. Begitu pula sebaliknya, jika beliau ada dirumah pastinya dia tidak boleh keluar dan disuruh tidur siang. Itu adalah kasus yang teman saya alami dari umur 6- 10 tahun. Sehingga, pada tahun-tahun tersebut perkembangan kepribadian teman saya mengalami gangguan yang menyebabkan dirinya berperilaku sama pada tahun sebelumnya (terjadi regresi).
B.         Pembahasan
Kasus yang teman saya alami adalah mengompol sewaktu berusia 6-10 tahun akibat rasa takut akan hal-hal gaib dan tertundanya melakukan aktivitas yang aktif seperti bermain hingga terbawa mimpi. Kasus tersebut saya hubungkan dengan teori psikanalisis oleh Sigmund Freud khususnya mengenai analisis mimpi. Freuds bekerja sangat dipengaruhi orang-orang ahli analisis mimpi. Bukunya The Interpretation of Dream (Die Traumdeutung) pertama kali diterbitkan tahun 1899. Di sini, ia menjelaskan bahwa mimpi sering dikaitkan dengan keinginan-pemenuhan.
Dia menjelaskan bahwa analisis mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi pada pemimpi dalam kehidupan nyata. Terutama untuk peristiwa yang terjadi pada hari sebelumnya. Sebagian besar mencerminkan interpretasi mimpinya ketakutan, keinginan dan emosi yang ada dalam pikiran bawah sadar kita. Bahkan mimpi negatif dapat ditafsirkan sebagai peristiwa yang pemimpi berharap tidak akan terjadi. Hal ini terjadi pada teman saya, karena setiap menonton dan mendengar hal-hal yang gaib membuat dirinya ketakutan hingga terbawa ke dalam mimpi dan mengompol yang tidak dia harap akan terjadi.
Definisi Mimpi Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Jika Freud seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis yang salah, selip bicara (keprucut), maupun lelucon.
Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998) bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk mengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi. (tertundanya pemenuhan keinginan teman saya untuk bermain bersama teman-teman).
Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.
C.         Kesimpulan
Dalam teori psikoanalisis oleh Sigmund Freud bahwa apa yang teman saya alami, Itu semua termasuk di dalam analisis mimpi. Menurut freud, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Sehingga peristiwa maupun aktivitas yang teman saya inginkan tidak terlaksana. Maka itu akan terwujud dalam analisis mimpi. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.

KEIKLASAN DALAM TELAAH AL QUR'AN

Keikhlasan Dalam Telaah Al-Qur'an

“Sesungguhnya, Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`an) dengan (membawa) kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)....”
(az-Zumar [39]: 2-3)

Rahasia Kekebalan Tubuh
PENDAHULUAN
Kita ambil contoh dua orang manusia. Asumsikanlah bahwa mereka berdua diberikan kesempatan yang cukup di dunia ini untuk merasakan kesenangan dari Allah dan bahwa mereka telah diberitahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka memenuhi tugas-tugas dan kewajiban agama hingga hari kematian mereka dan menghabiskan hidup mereka sebagai muslim yang taat. Mereka sukses dalam berbagai bidang. Memiliki pekerjaan yang bagus, keluarga yang harmonis, dan menjadi anggota masyarakat yang terhormat. Jika orang ditanya, siapakah yang paling sukses di antara kedua orang tersebut, mereka mungkin menjawab, “Orang yang bekerja lebih keras.” Akan tetapi, jika jawaban ini diperhatikan dengan saksama lagi, kita akan menyadari bahwa definisi-definisi sukses tersebut tidak berdasarkan Al-Qur`an, tetapi atas dasar kriteria duniawi.

Menurut Al-Qur`an, bukanlah kerja keras, bukan kelelahan, bukan pula mencapai penghormatan atau cinta dari orang lain yang disebut sebagai kriteria keunggulan, melainkan keyakinan mereka akan Islam, amal baik yang mereka kerjakan untuk mendapatkan keridhaan Allah, dan niat baik mereka yang terpelihara dalam hati. Itulah yang disebut kriteria yang unggul di hadapan Allah. Allah menyatakan hal ini di dalam Al-Qur`an,
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-Hajj [22]: 37)
Sebagaimana disebutkan di atas, amalan yang dilakukan seseorang dengan menyembelih seekor binatang karena Allah, akan dinilai-Nya bergantung pada ketaatan atau rasa takutnya kepada Allah. Daging atau darah bintang apa pun yang disembelih dengan menyebut nama Allah itu tidak ada nilainya di hadapan Allah jika amalan tersebut tidak dilakukan karena Allah. Di sinilah, faktor-faktor pentingnya adalah niat baik dan keikhlasan kepada Allah saat menjalankan suatu perbuatan atau peribadatan kepada Allah. Karena itu, seorang manusia tidak akan meningkat kemuliaannya di mata Allah hanya karena amal, ibadah, sikap, dan kata-kata baiknya. Tentu saja semua itu adalah perbuatan yang harus dilakukan seorang muslim sepanjang hidup mereka untuk mendapatkan balasan yang besar di hari pembalasan. Akan tetapi, faktor terpenting yang harus diperhatikan saat memenuhi semua perbuatan itu adalah tingkat kedekatan yang dirasakan seseorang dengan Allah. Yang penting bukanlah banyaknya perbuatan yang kita lakukan, melainkan bagaimana seseorang berpaling kepada Allah dengan kebersihan dan keikhlasan hati.

Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apa pun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling kepada Allah dengan hatinya dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap perbuatan, langkah, kata-kata, dan do’anya. Jadi, ia benar-benar yakin kepada Allah dan mencari kebajikan semata. Menurut Al-Qur`an,
“... Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat [49]: 13)
Dalam banyak ayat Al-Qur`an, ditekankan agar perbuatan baik itu dilakukan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Akan tetapi, beberapa orang berusaha untuk mengabaikan kenyataan ini. Mereka tidak pernah berkaca pada kebersihan niat di dalam hati mereka saat melakukan suatu pekerjaan, memberi nasihat, menolong orang, atau berkorban. Mereka percaya bahwa perbuatan mereka sudah cukup, dengan menganggap bahwa mereka telah menunaikan tugas agama. Di dalam Al-Qur`an, Allah mengatakan kepada kita tentang mereka yang berusaha sepanjang hidupnya, namun sia-sia. Jika demikian halnya, mereka akan dihadapkan pada situasi berikut ini di hari pembalasan.
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan.” (al-Ghaasyiyah [88]: 2-3)
Karena itulah, manusia akan menghadapi satu dari dua situasi tersebut di hari akhir. Dua orang yang telah mengejar pekerjaan yang sama, mencurahkan usaha yang sama, dan bekerja dengan kebulatan hati yang sama sepanjang hidup mereka, bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda di hari akhir. Mereka yang membersihkan dirinya akan dibalas dengan kebahagiaan surga yang memikat, sedangkan mereka yang meremehkan nilai keikhlasan saat berada di dunia ini akan mengalami penderitaan neraka yang tiada akhir.
Di dalam buku ini, kita akan mengacu pada dua aspek keyakinan yang mengubah perbuatan yang dilakukan seseorang menjadi berarti dan bernilai dalam pandangan Allah, yakni dengan pembersihan diri dan keikhlasan. Buku ini bertujuan untuk mengingatkan mereka yang gagal menjalani hidup mereka hanya untuk keridhaan Allah, mengingatkan bahwa semua usaha mereka sia-sia. Karena itu, buku ini mengajak mereka untuk membersihkan diri mereka sebelum datangnya hari pembalasan. Sebagai tambahan, kami juga ingin—sekali lagi—mengingatkan semua orang beriman bahwa pikiran, perkataan, atau perbuatan apa pun yang dapat mengurangi keikhlasan seseorang, memiliki konsekuensi yang besar karena konsekuensi-konsekuensi yang mungkin muncul di hari akhir. Karena itulah, kami ingin menunjukkan semua jalan untuk menjaga keikhlasan mereka dengan cahaya yang ditebarkan oleh ayat-ayat Al-Qur`an.
 

BERFIKIRLAH

Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur

KEPADA PEMBACA


Dalam semua buku karya penulis, berbagai permasalahan yang berkaitan dengan keimanan dijelaskan berdasarkan pada ayat-ayat Al Qur’an, dan masyarakat diajak untuk mempelajari dan menjalani hidup berdasarkan firman Allah. Semua pokok bahasan yang menyangkut ayat-ayat Allah dipaparkan sedemikian rupa sehingga tak menyisakan lagi keraguan ataupun tanda tanya dalam benak pembaca. Gaya yang tulus, sederhana dan fasih ini menjamin pembaca dari segala umur dan kelompok masyarakat untuk dapat memahami buku-buku ini dengan mudah. Gaya bertuturnya yang mudah dicerna dan jernih menyebabkan buku-buku ini dapat dipahami dalam sekali baca. Bahkan mereka yang sangat menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah agama sekali pun akan terpengaruh oleh kenyataan-kenyataan yang dipaparkan dalam buku-buku ini, serta tak sanggup menyangkal kebenaran isinya.
Buku ini, beserta semua karya Harun Yahya lainnya, dapat dibaca secara perorangan maupun dibahas dalam kelompok. Para pembaca yang berminat menarik manfaat dari buku tersebut sebaiknya membahas buku dalam kelompok. Dengan demikian, mereka akan dapat saling bertukar pikiran, renungan, dan pengalaman mereka masing-masing.
Selain itu, membantu penyajian dan peredaran buku-buku ini, yang ditulis demi ridha Allah semata, adalah amal ibadah yang tinggi nilainya bagi agama. Semua buku karya penulis ini sangat meyakinkan. Karena itu, bagi mereka yang ingin menyampaikan pesan agama kepada orang lain, salah satu cara yang paling mengena adalah dengan menganjurkan orang lain agar membaca buku-buku ini.
Pembaca diharapkan sudi meluangkan waktu sejenak untuk membaca ulasan singkat buku-buku lain di halaman akhir buku ini, serta mengetahui kekayaan sumber bahan yang mengulas tentang berbagai permasalahan keimanan, yang sangat bermanfaat, sekaligus enak dibaca.
Tidak seperti dalam sejumlah buku tertentu, dalam buku-buku karya penulis ini tidak terdapat pandangan pribadi penulis, penjelasan berdasarkan sumber yang meragukan, maupun gaya penyampaian yang mengabaikan perihal penghormatan dan penghargaan terhadap kesucian. Di dalamnya tidak juga terdapat penjelasan yang bersifat melemahkan semangat, memunculkan keraguan, ataupun memupuskan harapan, yang kesemua ini dapat memunculkan penyimpangan di hati para pembacanya


Dari Penerbit


Di Indonesia, Harun Yahya telah menjadi fenomena dua tahun belakangan ini. Semua itu tidak lepas dari karya-karyanya yang tersebar dalam beragam bentuk; Audio, video dan cetakan. Merintis sejak 1980-an, kini karya beliau telah banyak beredar di berbagai belahan dunia dengan beragam bahasa.
Fokus karya beliau pada pembahasan filsafat materialisme dan Darwinisme yang dinilai sebagai paham perusak kemanusiaan terbesar. Paham itu pula yang menggelincirkan dan menyesatkan manusia dari tujuan hakiki kehidupannya, yakni beribadah kepada Penciptanya.
Buku saku kecil ini adalah rangkuman beberapa artikel yang ditulis oleh Harun Yahya meliputi tema-tema aqidah dan keimanan serta keajaiban penciptaan di alam raya ini. Bahasan seputar evolusi dan propaganda para pendukungnya tidak dirangkum pada kesempatan ini. Insya Allah akan kami terbitkan tersendiri dalam kesempatan mendatang. Naskah dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, tidak berpanjang-panjang namun memiliki sentuhan dan jalinan nalar yang kuat. Buku ini akan sangat cocok bagi pembaca yang mungkin ingin berkenalan terlebih dahulu dengan pemikiran ilmuwan asal Turki ini secara lebih santai. Adapun yang ingin lebih detail, dipersilakan merujuk pada buku-buku utamanya yang telah banyak dicetak para penerbit Indonesia.
Akhirnya kami menyampaikan selamat membaca dan terima kasih….

Jakarta, September 2003

 


Tentang Penulis



Penulis, yang memakai nama pena Harun Yahya, lahir di Ankara pada tahun 1956. Usai menamatkan sekolah dasar dan menengahnya di Ankara, beliau kemudian melanjutkan pendidikan di bidang seni di Universitas Mimar Sinan di Istanbul, serta ilmu filsafat di Universitas Istanbul. Sejak tahun 1980-an, penulis telah menerbitkan banyak buku tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan politik, agama dan ilmu pengetahuan. Harun Yahya terkenal sebagai penulis yang telah menghasilkan karya-karya sangat penting, yang mengungkapkan kepalsuan para evolusionis, ketidakabsahan pernyataan mereka, serta menyingkapkan hubungan gelap antara Darwinisme dengan berbagai ideologi berdarah, seperti fasisme dan komunisme.
   Nama pena beliau terdiri atas nama “Harun” dan “Yahya”, untuk mengenang kedua nabi mulia yang berjuang mengatasi redupnya cahaya keimanan. Stempel Nabi Muhammad yang terdapat pada sampul buku-buku Harun Yahya, menjadi lambang dan memiliki kaitan dengan isi buku. Ini melambangkan Al Qur’an (kitab suci terakhir) dan Nabi Muhammad, penutup para nabi. Dengan tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah, penulis berniat membuktikan kesalahan ajaran-ajaran dasar dari ideologi tak ber-Tuhan, dan untuk menyampaikan “risalah penutup”, dalam rangka membungkam sama sekali berbagai tentangan terhadap agama. Stempel Nabi terakhir, yang dikaruniai hikmah yang agung dan akhlak sempurna, digunakan sebagai tanda niatan penulis dalam menyampaikan risalah penutup ini.
   Semua karya penulis terpusat pada satu tujuan: menyampaikan pesan Al Qur’an kepada masyarakat, mendorong mereka agar memikirkan masalah-masalah mendasar yang berhubungan dengan keimanan mereka (seperti keberadaan Tuhan, keesaan-Nya, serta kehidupan sesudah mati), dan untuk mengungkap landasan berpijak yang lemah serta ideologi-ideologi sesat dari berbagai sistem anti-Tuhan.
   Harun Yahya mendapatkan sambutan luas dari para pembacanya di banyak negara, dari India sampai Amerika, Inggris sampai Indonesia, Polandia sampai Bosnia, serta Spanyol sampai Brasil. Buku-bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Portugis, Urdu, Arab, Albania, Rusia, Serbo-Kroasia (Bosnia), Polandia, Malaya, Uygur, Turki, serta bahasa Indonesia. Buku-bukunya dibaca dan dinikmati di seluruh dunia.
   Karya-karya Harun Yahya yang telah dinikmai dan dihargai di seluruh dunia, telah berperan penting bagi banyak orang dalam menghidupkan kembali keimanan mereka, dan juga bagi sebagian orang untuk memperoleh petunjuk baru dalam keimanan mereka kepada Tuhan. Hikmah, dan ketulusan serta gaya penyampaian yang mudah dipahami menjadikan buku-buku ini memiliki keistimewaan yang berpengaruh langsung pada orang yang membaca atau mengkaji isinya. Karya-karya tersebut, yang tidak bisa disanggah, memiliki sifat yang cepat mengena, menunjukkan hasil yang jelas, serta merupakan kebenaran yang mustahil dipungkiri. Sulit bagi mereka yang telah membaca dan merenungkan isi buku ini secara sungguh-sungguh untuk mampu secara tulus mendukung filsafat materialistis, ateisme, maupun filsafat dan ideologi menyimpang lainnya. Kalaupun mereka masih mendukung, hal itu sekadar sikap kukuh yang tidak berdalih, karena buku-buku ini membongkar ideologi sesat mulai dari akarnya. Berkat buku-buku Harun Yahya, semua gerakan yang mengingkari Tuhan di masa kini telah dikalahkan secara ideologis.
   Tidak ragu lagi, sifat-sifat yang telah disebutkan tadi berasal dari hikmah dan kejernihan isi Al Qur’an. Dengan rendah hati, penulis bermaksud membuka jalan bagi upaya manusia dalam mencari jalan Tuhan yang lurus. Keuntungan materi bukanlah tujuan diterbitkannya buku-buku ini.
   Dengan demikian, mereka yang menganjurkan masyarakat agar membaca buku-buku ini, yang membuka mata hati dan menuntun masyarakat agar lebih berbakti sebagai hamba Allah, telah memberikan sumbangsih yang tak ternilai.
   Sementara, sebagaimana telah terbukti oleh pengalaman yang sudah-sudah, adalah sia-sia bila kita menyebarluaskan buku-buku lain yang membingungkan pikiran, menyesatkan manusia ke dalam kekacauan ideologis, serta tak jelas manfaatnya dalam mengenyahkan keraguan dalam hati. Sangatlah jelas bahwa pengaruh sekuat itu mustahil terdapat pada buku-buku yang bertujuan menonjolkan bakat sastra sang penulis, dan bukan bertujuan mulia menyelamatkan iman manusia. Mereka yang meragukan ini dapat langsung menyaksikan bahwa tujuan tunggal buku-buku Harun Yahya adalah menyelamatkan redupnya keimanan, serta menebarkan benih nilai-nilai ajaran Al Qur’an. Keberhasilan dan akibat dari upaya ini terwujud dalam keyakinan para pembaca.
   Satu hal yang harus diingat: Penyeab utama dari masih berlangsungnya berbagai kekejaman, pertikaian, dan penderitaan umat manusia pada umumnya adalah merajalelanya sikap tidak beriman kepada Tuhan, yang menjangkit secara ideologis. Cara menghadapi semua ini adalah mengalahkan sikap tersebut secara ideologis, serta menyampaikan berbagai sisi menakjubkan tentang ciptaan Allah, dan akhlak Al Qur’an untuk sungguh-sungguh dijadikan pegangan hidup manusia. Jika kita lihat keadaan dunia kini, yang menjerumuskan manusia semakin cepat ke dalam lingkaran kekerasan, kerusakan akhlak dan pertikaian, tampak jelaslah bahwa upaya ini harus dilaksanakan dengan cepat dan berhasil guna – sebelum terlambat.
   Tak berlebihan bila dikatakan bahwa seri buku Harun Yahya telah memegang peran penting dalam upaya ini. Dengan izin Allah, buku-buku ini akan menjadi jalan bagi manusia abad ke-21 untuk meraih kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan seperti yang dijanjikan dalam Al Qur’an.
   Hasil karya Harun Yahya antara lain: The New Masonic Order, Judaism and Freemasonry, Global Freemasonry, Kabbalah and Freemasonry, Knight Templars, Philosophy of Zionism, Kabbalah and Zionism, Islam Denounces Terrorism, Terrorism:The Ritual of the Devil, The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Communism in Ambush, Fascism:The Bloody Ideology of Darwinism, The 'Secret Hand' in Bosnia, Behind the Scenes of The Holocaust, Behind the Scenes of Terrorism, Israel's Kurdish Card, The Oppression Policy of Communist China and Eastern Turkestan,Palestine, Solution: The Values of the Qur'an, The Winter of Islam and Its Expected Spring, Articles 1-2-3, A Weapon of Satan:Romanticism, The Light of the Qur' an Destroyed Satanism, Signs from the Chapter of the Cave to the Last Times, Signs of the Last Day, The Last Times and The Beast of the Earth, Truths 1-2, The Western World Turns to God, The Evolution Deceit, Precise Answers to Evolutionists, The Blunders of Evolutionists, Confessions of Evolutionists, The Misconception of the Evolution of the Species, The Qur'an Denies Darwinism, Perished Nations, For Men of Understanding, The Prophet Musa, The Prophet Yusuf, The Prophet Muhammad (saas), The Prophet Sulayman, The Golden Age, Allah's Artistry in Colour, Glory is Everywhere, The Importance of the Evidences of Creation, The Truth of the Life of This World, The Nightmare of Disbelief, Knowing the Truth, Eternity Has Already Begun, Timelessness and the Reality of Fate, Matter:Another Name for Illusion, The Little Man in the Tower, Islam and the Philosophy of Karma, The Dark Magic of Darwinism, The Religion of Darwinism, The Collapse of the Theory of Evolution in 20 Questions, Engineering in Nature, Technology Mimics Nature, The Impasse of Evolution I (Encyclopedic), The Impasse of Evolution II(Encyclopedic), Allah is Known Through Reason, The Qur'an Leads the Way to Science, The Real Origin of Life, Consciousness in the Cell, Technology Imitates Nature, A String of Miracles, The Creation of the Universe, Miracles of the Qur'an, The Design in Nature, Self-Sacrifice and Intelligent Behaviour Models in Animals, The End of Darwinism, Deep Thinking, Never Plead Ignorance, The Green Miracle: Photosynthesis, The Miracle in the Cell, The Miracle in the Eye, The Miracle in the Spider, The Miracle in the Gnat, The Miracle in the Ant, The Miracle of the Immune System, The Miracle of Creation in Plants, The Miracle in the Atom, The Miracle in the Honeybee, The Miracle of Seed, The Miracle of Hormone, The Miracle of the Termite, The Miracle of the Human Body, The Miracle of Man's Creation, The Miracle of Protein, The Miracle of Smell and Taste, The Miracle of Microworld, The Secrets of DNA.
   Buku anak-anak karya Harun Yahya adalah: Wonders of Allah's Creation, The World of Animals, The Glory in the Heavens, Wonderful Creatures, Let's Learn Our Islam, The Miracles in Our Bodies, The World of Our Little Friends:The Ants, Honeybees That Build Perfect Combs, Skillful Dam Builders:Beavers.
   Karya lain mengenai pokok bahasan Al Qur’an: The Basic Concepts in the Qur'an, The Moral Values of the Qur'an, Quick Grasp of Faith 1-2-3, Ever Thought About the Truth?, Crude Understanding of Disbelief, Devoted to Allah, Abandoning the Society of Ignorance, The Real Home of Believers: Paradise, Knowledge of the Qur'an, Qur'an Index, Emigrating for the Cause of Allah, The Character of the Hypocrite in the Qur'an, The Secrets of the Hypocrite, The Names of Allah, Communicating the Message and Disputing in the Qur'an, Answers from the Qur'an, Death Resurrection Hell, The Struggle of the Messengers, The Avowed Enemy of Man: Satan, The Greatest Slander: Idolatry, The Religion of the Ignorant, The Arrogance of Satan, Prayer in the Qur'an, The Theory of Evolution, The Importance of Conscience in the Qur'an, The Day of Resurrection, Never Forget, Disregarded Judgements of the Qur'an, Human Characters in the Society of Ignorance, The Importance of Patience in the Qur'an, General Information from the Qur'an, The Mature Faith, Before You Regret, Our Messengers Say, The Mercy of Believers, The Fear of Allah, Jesus WillReturn, Beauties Presented by the Qur'an for Life, A Bouquet of the Beauties of Allah 1-2-3-4, The Iniquity Called "Mockery," The Mystery of the Test, The True Wisdom According to the Qur'an, The Struggle Against the Religion of Irreligion, The School of Yusuf, The Alliance of the Good, Slanders Spread Against Muslims Throughout History, The Importance of Following the Good Word, Why Do You Deceive Yourself?, Islam: The Religion of Ease, Zeal and Enthusiasm Described in the Qur'an, Seeing Good in All, How do the Unwise Interpret the Qur'an?, Some Secrets of the Qur'an, The Courage of Believers, Being Hopeful in the Qur'an, Justice and Tolerance in the Qur'an, Basic Tenets of Islam, Those Who do not Listen to the Qur'an, Taking the Qur'an as a Guide, A Lurking Threat:Heedlessness, Sincerity in the Qur'an, The Religion of Worshipping People, The Methods of theLiar in the Qur' an, The Happiness of Believers

Bagaimana Memahami Ayat Allah di Alam

Dalam Al Qur'an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.

Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu

"…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imraan, 3:190-191)

Di banyak ayat dalam Al Qur'an, pernyataan seperti, "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?", "terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal," memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:

"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:11)

Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.
Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?

Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An'aam, 6:59).

Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An'aam, 6:95)


Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana", maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.


Berpikir Tentang Planet Bumi

Pernahkan Anda berpikir bahwa setiap sesuatu diciptakan untuk manusia saja?
Ketika seseorang yang beriman kepada Allah mengamati segala sesuatu beserta sistim yang ada, hidup ataupun tak hidup, yang ada di jagad raya dengan menggunakan mata yang penuh perhatian, ia melihat bahwa segalanya telah diciptakan untuk manusia. Ia mengetahui bahwa tak satupun yang muncul dan menjadi ada di dunia secara kebetulan, namun diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang sangat sesuai untuk kehidupan manusia.
Misalnya, dari dulu hingga sekarang manusia dapat bernapas tanpa susah payah di setiap saat. Udara yang ia hirup tidak membakar saluran hidungnya, tidak membuatnya mabuk ataupun sakit kepala. Komposisi unsur-unsur ataupun senyawa-senyawa gas dalam udara telah ditetapkan dalam jumlah yang paling sesuai untuk tubuh manusia. Seseorang yang memikirkan hal ini teringat akan hal lain yang sangat penting: seandainya kadar oksigen dalam atmosfir sedikit lebih atau kurang dari yang ada sekarang, dalam dua keadaan tersebut kehidupan akan hancur. Ia lalu ingat betapa susahnya bernapas ketika berada dalam tempat yang tidak mengandung udara. Ketika seorang yang beriman terus-menerus memikirkan masalah ini, ia akan selalu bersyukur kepada Tuhannya. Ia melihat bahwa atmosfir bumi dapat saja dibuat sedemikian rupa sehingga membuatnya susah untuk bernapas sebagaimana banyak planet-planet yang lain. Namun tidaklah demikian kenyataannya, atmosfir bumi diciptakan dalam keseimbangan dan keteraturan yang demikian sangat sempurna sehingga membuat jutaan manusia bernapas tanpa susah payah.
Seseorang yang tiada henti memikirkan tentang planet di mana ia hidup, meyadari betapa pentingnya air yang diciptakan Allah untuk kehidupan manusia. Kemudian ia pun berpikir: manusia pada umumnya paham tentang pentingnya air hanya ketika mereka kekurangan air dalam waktu yang lama. Air adalah substansi yang kita butuhkan setiap saat dalam hidup kita. Misalnya, sebagian besar dari sel-sel tubuh, dan darah yang menjangkau setiap bagian kecil dari tubuh kita tersusun atas air. Jika tidak demikian, maka fluiditas darah akan berkurang dan darah akan sangat sulit mengalir di dalam pembuluh vena. Fluiditas air tidak hanya penting bagi tubuh kita akan tetapi juga untuk tumbuh-tumbuhan. Air mampu menjangkau bagian yang paling ujung dari daun dengan melalui pembuluh-pembuluhnya yang halus seperti benang.
Massa air yang sangat besar di lautan menjadikan bumi kita tempat yang dapat didiami. Jika proporsi lautan di bumi menjadi lebih kecil dari daratan, di mana-mana akan berubah menjadi gurun yang tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Seseorang yang sadar dan berpikir tentang hal ini akan benar-benar yakin bahwa adanya keseimbangan yang begitu sempurna di bumi sudah pasti bukanlah sebuah kebetulan. Setelah menyaksikan dan memikirkan fenomena tersebut, akan tampak bahwa segala sesuatu diciptakan dengan sebuah tujuan oleh Pencipta Yang Mahatinggi dan Pemilik Kekuatan Yang Abadi.
Di samping itu, ia juga sadar bahwa contoh-contoh yang telah ia pikirkan sebagaimana di atas sangatlah terbatas. Sungguh, tidaklah mungkin untuk menyebutkan jumlah seluruh contoh-contoh yang berkenaan dengan keseimbangan yang sempurna di bumi. Bagi orang yang berpikir, ia akan dapat dengan mudah menyaksikan keteraturan, kesempurnaan dan keseimbangan yang terlihat jelas di setiap sudut jagad raya, dan dengannya mencapai suatu kesimpulan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah untuk manusia. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)